Kamis, 26 Juni 2014

discharge planning



MAKALAH
MANAJEMEN KEPERAWATAN
DISCHARGE PLANNING




 




Disusun oleh:
  

Dwi Apriadi                         
                                              10620312







PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S.1)
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang “Discharge Planning” ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keperawatan  Ns. Wiwin S, S.Kep.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan dan hasil dari browsing internet yang berkaitan dengan Discharge Planning dan hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita,dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Discharge Planning. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.



Kediri, 20 Maret 2014

      Penyusun







DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3  Tujuan ....................................................................................................... 2
1.4  Manfaat .................................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Pengertian Discharge Planning ............................................................... 3
2.2   Tujuan Discharge Planning...................................................................... 3
2.3   Struktur Discharge Planning.................................................................... 4
2.4   Prinsip Discharge Planning...................................................................... 6
2.5   Proses Discharge Planning....................................................................... 7
2.6   Pengetahuan Discharge Planning............................................................ 8
2.7   Keuntungan Discharge Planning............................................................. 8
2.8   Justifikasi metode Discharge Planning.................................................... 8
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 10
3.2 Saran  ......................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien.berbagai kemungkinan buruk yang akan membahayakan bagi pasien bisa saja terjadi sehingga diperlukan peran penting perawat dalam setiaptindakan keperawatan dengan melakukan intervensi keperawatan yang tepat untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis.
Oleh karena itu perlu diberikan informasi kepada pasien agar mampu mengenali tanda bahaya untuk dilaporkan kepada tenaga medis. Sebelum pemulangan pasien dan keluarganya harus mengetahui bagaimana cara memanajemen pemberian perawatan di rumah dan apa yang diharapkan di dalam memperhatikan masalah fisik yang berkelanjutan karena kegagalan untuk mengerti pembatasan atau implikasi masalah kesehatan (tidak siap menghadapi pemulangan) dapat menyebabkan pasien meningktkan komplikasi (Perry & Potter, 2006).
Ketidak siapan pasien menghadapi pemulangan juga dapat terjadi karena pasien terlalu cepat dipulangkan sehingga hal ini juga beresiko terhadap terjadinya komplikasi pasca bedah setelah di rumah, dan juga dikarenakan pemulangan yang tidak direncanakan yang dapat berakibat kepada hospitalisasi ulang (Torrance, 1997). Hal tersebut di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Williams (2006) bahwa mayoritas pasien yang menerima informasi tentangnyeri dan manajemen luka, aktivitas, nutrisi, dan komplikasi pada umumnyamerasakan bahwa tidak mengalami perasaan khawatir yang membuat mereka akan mengadakan kunjungan tidak rutin ke fasilitas kesehatan setelah dipulangkan. Sedangkan pasien yang tidak mendapat informasi tentang nyeri dan manajemen luka menurut Williams (2006) mengalami kekhawatiran yang memaksa mereka untuk melakukan kunjungan tidak rutin kepada suatu fasilitas kesehatan setelah dipulangkan.
Oleh karena itu pasien perlu dipersiapkan untuk menghadapi pemulangan. Orem (1985 dalam Alligood & Tomey, 2006) mengatakan bahwa intervensi keperawatan dibutuhkan karena adanya ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri sebagai akibat dari adanya keterbatasan. Salah satu bentuk intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah discharge planning (perencanaan pemulangan pasien) untuk mempromosikan tahap kemandirian tertinggi kepada pasien, teman-teman, dan keluarga dengan menyediakan, memandirikan aktivitas perawatan diri (The Royal Marsden Hospital 2004). Discharge planning yang tidak  baik dapat menjadi salah satu faktor yang memperlama proses penyembuhan di rumah (Wilson-Barnett dan Fordham, 1982 dalam Torrance, 1997. Kesuksesan tindakan discharge planning menjamin pasien mampu melakukan tindakan perawatan lanjutan yang aman dan realistis setelah meninggalkan rumah sakit (Hou, 2001 dalam Perry &Potter, 2006).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah manajemen discharge planning?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan manajemen discharge planning
1.3.2 Tujuan Khusus
1.    Mengidentifikasi Pengertian Discharge Planning
2.    Mengidentifikasi Tujuan Discharge Planning
3.    Mengidentifikasi Struktur
4.    Mengidentifikasi Prinsip
5.    Mengidentifikasi Proses
6.    Mengidentifikasi Pengetahuan
7.    Mengidentifikasi Keuntungan discharge planning
8.    Mengidentifikasi Justifikasi metode discharge planning

1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa mengetahui konsep discharge planning.
1.4.2 Mahasiswa mampu mengaplikasikan discharge planning kepada pasien.mebedakan gaya kepemimpinan otoriter dengan gaya kepemimpinan yang lain.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Discharge Planning
Discharge planning merupakan suatu rencana yang disusun untuk klien, sebelum keluar dari Rumah Sakit yang dimulai dari mengumpulkan data sampai dengan masuk area perawatan yaitu meliputi pengkajian, rencana perawatan, implementasi dan evaluasi (Fisbach, 1994).
Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Discharge Planning menunjukkan beberapa proses formal yang melibatkan team atau memiliki tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok lainnya (RCP,2001).
Planning adalah suatu pendekatan interdisipliner meliputi pengkajian kebutuhan klien tentang perawatan kesehatan diluar Rumah Sakit, disertai dengan kerjasama dengan klien dan keluarga klien dalam mengembangkan rencana- rencana perawatan setelah perawatan di Rumah Sakit (Brunner & Sudarth, 2002).
Perawat adalah salah satu anggota team Discharge Planner, dan sebagai discharge planner perawat mengkaji setiap pasien dengan mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi masalah actual dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama pasien dan keluarga, memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi pasien secara optimal dan mengevaluasi kesinambungan asuhan keperawatan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa discharge planning atau perencanaan pemulangan adalah suatu proses pembelajaran yang melibatkan klien dan keluarga untuk meningkatkan pemahaman dan mengembangkan kemampuan klien dan keluarga tentang perawatan di rumah, masalah kesehatan yang dihadapi, untuk mempercepat penyembuhan menghindari kemungkinan komplikasi dengan  pembatasan aktifitas menciptakan memberikan lingkungan yang aman bagi klien di rumah.
2.2  Tujuan
Tujuan dari perencanaan pemulangan pasien adalah:
a.    Meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga tentang masalah kesehatan, kemungkinan komplikasi dan pembatasan yang diberlakukan pada pasien di rumah.
b.    Mengembangkan kemampuan merawat pasien dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pasien dan memberikan lingkungan yang aman untuk pasien di rumah.
c.    Menyakinkan  bahwa  rujukan  yang  diperlukan untuk perawatan selanjutnya dibuat dengan tepat (Ester, 2005).
2.3  Struktur
Menurut Mc.Kecnan dan Coulton (1970) yang dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan bahwa struktur dari perencanaan pemulangan terdiri dari struktur formal dan informal. Model informal adalah model tradisional dimana perawat harus berkonsultasi dengan dokter atau pekerja sosial dalam menyusun dalam sebuah perencanaan pemulangan dan belum adanya suatu dokumentasi tertulis dalam pelaksanaannya. Struktur formal dimana perencanaan  pemulangan dibuat secara tertulis yang berisikan tentang uraian peran, proses seleksi, penilaian sistem dokumentasi serta metode evaluasi yang berkelanjutan. Dugan dan Mossel (1992) yang dikutip oleh Jackson (1994) menyatakanbahwa pada saat ini telah terjadi perubahan dalam pelaksanaan perencanaan pemulangan dengan struktur tersendiri dimana perawat sebagai koordinasi dalam pelaksanaannya dan selalu berkonsultasi dengan klien dan keluarga serta para profesional lainnya dalam perencanaan pemulangan baik dalam pelaksanaannya
2.4  Prinsip
Menurut Anne. M, Angela. D (2000) prinsip dari perencanaan pemulangan terdiri dari penemuan kasus, pengkajian, koordinasi dan implementasi, sebagai berikut:
a.       Penemuan kasus adalah kegiatan yang dilakukan dengan kerjasama antara profesi kesehatan yang meliputi profesi keperawatan, medis dan profesi lain untuk mengidentifikasi faktor resiko yang akan dapat diatasi oleh pasien selama perawatan di rumah. Faktor resiko tersebut adalah status kognitif atau pengetahuan dari pasien mengenai penyakit dan pengobatannya, keadaan tempat tinggal yang dapat mendukung perawatan pasien, lingkungan masyarakat yang aman, faktor kultur dan usia.
b.      Pengkajian adalah dimulainya mencari dan mengidentifikasikan kebutuhan dari pasien dengan mencari informasi melalui wawancara dengan pasien dan keluarga, serta pemeriksaan fisik dan lingkungan yang dapat membantu untuk menentukan tingkat ketergantungan dari pasien. Hasil pengkajian tersebut untuk selanjutnya akan didiskusikan dengan tim kesehatan lainnya untuk menyusun perencanaan pemulangan.
c.       Koordinasi adalah komunikasi dan kerjasama antar tim dari multidisiplin profesi dan ilmu termasuk kerjasama dengan klien dan keluarga dalam menyusun dan melaksanakan rencana pemulangan.
d.      Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana pemulangan yang berisi rujukan, pelaksanaan dan evaluasi dari perencanaan pemulangan yang dikerjakan sesuai bidang ilmu keperawatan.
2.5  Proses
Proses perencanaan pemulangan mengikuti struktur yang sama dengan proses perawatan yang meliputi: pengkajian, analisa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kebutuhan klien ( Kee & Borchers, 1998).
a.    Pengkajian
Pengkajian perencanaan pemulangan terdiri dari “apa dan kapan” maksud dari apa adalah apa yang harus dikaji dalam perencanaan pemulangan dan kapan yang berarti kapan pengkajian tersebut dilaksanakan (Bull & Robert, 2001). Pengkajian tentang apa meliputi lima area yaitu pengkajian area kognitif, psikologis, status ekonomi atau finansial, akses dan dukungan lingkungan baik formal maupun informal. Sedangkan untuk mengetahui kapan pengkajian perencanaan pemulangan dilakukan adalah sejak pasien masuk ke Rumah Sakit atau pada saat screening atau kontrol kesehatan. Pada tahap ini diharapkan discharge planner mengetahui semua kebutuhan pasien (Bull & Robert, 2001).
Pengkajian memerlukan seseorang yang diharapkan mampu melakukan pengkajian yang meliputi pengkajian terhadap keluarga dan pengkajian pada support dan dukungan dari masyarakat yang dapat mendukung dalam perencanaan pemulangan dan pengkajian tentang pengetahuan dan ketrampilan dari pasien tentang penyakit yang dihadapi, selanjutnya pengkajian untuk rencana pemulangan akan didiskusikan oleh tim dari multidisiplin ilmu, pasien dan keluarga. Dalam hal ini perlu kerjasama dengan tim dari komunitas yaitu puskesmas (Bull & Robert, 2001).
b.    Perencanaan
Penyusunan sebuah rencana pemulangan perlu dibentuk sebuah tim dari berbagai disiplin ilmu yang melibatkan keluarga, sebab keluarga akan membantu proses pelaksanaan dari perencanaan pemulangan setelah pasien dipulangkan dari Rumah Sakit. Literatur Medis menjelaskan bahwa rencana pemulangan merupakan tanggung jawab dari dokter, sehingga disini dokterlah yang berhak mengendalikan kerja dari tim dan setiap anggota tim bekerja dan berinteraksi dalam rangka memenuhi kebutuhan dari klien dan keluarga atas dasar keahlian masing-masing (Jackson, 1994).
Menurut Markey dan Igo (1987) dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan bahwa yang memiliki peran penting disini justru perawat terutama dalam menyusun rencana pendidikan kesehatan klien dan keluarga, hal ini didasarkan bahwa perawat lebih mengerti pada kebutuhan klien selama dua puluh empat jam, terutama setelah klien di rumah atau post hospitalisasi. Menurut Simmons (1986) dikutip oleh Jackson (1994) bahwa suatu rencana pemulangan akan efektif bila ada tanggung jawab bersama dalam memberikan pelayanan pada klien dan keluarga. Perencanaan pemulangan didasarkan pada kebutuhan klien yang didapatkan dari hasil pengkajian lengkap oleh tim sehingga dapat direncanakan tanggal pemulangan dengan melibatkan pasien dan keluarga dan pemberi pelayanan. Perencanaan pemulangan juga melibatkan petugas pelayanan komunitas dalam hal ini adalah puskesmas ( Bull & Robert, 2001).

Perencanaan pemulangan dengan menyiapkan klien dan keluarga bagaimana memberikan perawatan lanjutan di rumah diantaranya :
1)      Mengajarkan pasien dan anggota keluarga tentang cara menangani perawatan di rumah. Menyakinkan bahwa pasien dan keluarga memahami apa masalahnya. Memberitahu mereka kemungkinan yang akan terjadi dan kapan mereka diharapkan pulih total. Memberitahu mereka bagaimana mengenali kemungkinan masalah kesehatan, dan apa yang dilakukan bila mereka melihat tanda dan gejala masalah tersebut.
2)      Memberitahu pembatasan aktifitas pasien, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan pasien. Sebagai contoh pasien  harus tidur pada sisi yang tidak dioperasi. Pasien mungkin perlu  menghindari aktifitas yang meningkatkan tekanan pada mata seperti meregang sewaktu buang air besar.
3)      Mendiskusikan dengan pasien dan keluarga hal-hal yang perlu mereka lakukan untuk membuat rumah lebih aman dan lebih mudah untuk pasien. Bila pasien tidur jauh dari kamar mandi dan belum dapat berjalan dengan baik karena gangguan penglihatan perlu menaruh wadah disamping tempat tidur dan mendekatkan benda-benda yang kesehariannya dibutuhkan klien.
4)      Memberitahu pasien dan keluarga tentang medikasi yang perlu digunakan pasien. Menyakinkan mereka memahami kapan meminumnya dan seberapa banyak. Menyakinkan bahwa pasien dan keluarga memahami penggunaan obat minum sesuai dengan aturan.
5)      Mendiskusikan perlunya pola makan atau diit nutrisi yang adekuat. Memberitahu keluarga ada dan tidaknya makanan pantang tertentu sehubungan dengan penyakit yang diderita.
6)      Memberi pasien dan keluarga instruksi jelas untuk mengatasi nyeri. Mencoba untuk membantu pasien menjalankan jadwal medikasi sehingga tidak perlu bangun malam hari. Nyeri berkurang bila obat diberikan dengan teratur sesuai jadwal. Menjelaskan bahwa nyeri terkontrol bila obat digunakan sebelum nyeri menjadi hebat.
7)      Memberi pasien bahan atau alat yang diperlukan atau memberikan instruksi tentang cara mendapatkan hal-hal yang diperlukan. Memberitahu pasien dengan jelas hal-hal yang harus dilakukan dengan instruksi tertulis. Memeriksa pemahaman mereka dengan meminta mereka untuk menunjukan cara melakukan prosedur tersebut.
8)      Berbicara dengan hati-hati pada pasien dan keluarga tentang ramuan buatan rumah dan penyembuh tradisional. Mendorong keluarga untuk memberitahu dokter atau perawat bila pasien mengalami masalah kesehatan serius.
9)      Jika pasien perlu mengikuti perawatan lanjutan di rumah, membuat rujukan sebelum pasien meninggalkan rumah sakit (Monica, 2005).
Ketika  menyiapkan pasien dan keluarga untuk pulang, selalu mengikuti prinsip dasar penyuluhan pasien yang baik yaitu:
1)   Menjadwalkan penyuluhan ketika pasien sadar dan berminat terhadap pembelajaran.
2)   Memulai dengan bahan yang paling ingin pasien ketahui.
3)   Bila mempunyai beberapa hal yang ingin diberitahukan kepada pasien, selalu dengan informasi yang paling sederhana. Selanjutnya informasi yang lebih rumit.
4)   Menggunakan kata-kata yang jelas, umum, bukan kata-kata medis.
5)   Menghentikan bila pasien tampak bingung dan tanyakan apakah ia memahami.
6)   Bila perlu mengulangi informasi tersebut, atau menjelaskan dalam kata- kata yang berbeda sampai anda yakin bahwa ia memahami anda.
7)   Mendorong pasien untuk memberikan komentar dan mengajukan pertanyaan dan untuk menunjukan pada anda apa yang ia ketahui.
8)   Mendorong anggota keluarga untuk mengajukan pertanyaan.
9)   Memastikan bahwa mereka memahami apa yang perlu dilakukan.
10)    Menggunakan gambar dalam penyuluhan anda dan berikan makalah, leflet/ folder sederhana dalam bahasa pasien.
11)    Memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan dan memberikan kenyamanan setenang mungkin, dengan cara tanpa mengatakan bahwa ada yang tidak benar (Ester, 2005).
c.    Implementasi
Menurut Feater dan Nicholas (1985) dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan hubungan yang aktif dan baik antar tim pelaksana dan tersedianya dukungan dari semua pihak serta adanya fleksibilitas dari organisasi pelayanan yaitu Rumah Sakit dan Puskesmas. Hal ini adalah faktor yang berpengaruh pada keberhasilan dalam rencana pemulangan. Oleh karena itu untuk pelaksanaan  pasien meninggalkan rumah sakit perlu diperhatikan yaitu:
1)   Ketika pasien meninggalkan rumah sakit, sekali lagi menekankan informasi yang telah anda berikan sebelumnya dan program dokter untuk medikasi, tindakan, atau peralatan khusus.
2)   Menekankan perjanjian rujukan sehingga pasien jelas tentang hal-hal yang harus dilakukan.
3)   Menyakinkan pasien dan keluarga memahami keterbatasan  pasien, seberapa lama hal ini akan berlangsung, bagaimana mengenali tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, dan tindakan yang harus mereka lakukan untuk membantu pemulihan pasien semaksimal mungkin.
4)   Mendorong pasien dan keluarga untuk datang kembali ke rumah sakit bila kondisinya tidak membaik atau memburuk.
5)   Ketika pasien pulih, memberikan motivasi untuk kembali ke kehidupan dan perannya yang normal seperti sebelum sakit (Ester, 2005).
d.   Out Come
Menurut Staff (1983) dikutip oleh Jackson (1994) bahwa suatu hasil rehabilitasi yang efektif merupakan kombinasi dari penyusunan perencanaan pemulangan sebelum klien masuk hingga klien keluar dari Rumah Sakit. Menurut Coble dan Mayers (1983) dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan evaluasi secara kualitatif akan memberikan gambaran adanya hubungan antara lamanya hari perawatan dengan besarnya biaya pelayanan yang dikeluarkan dan proses kepuasan klien terhadap hal tersebut. Apabila adanya pendekatan tim pada klien secara pribadi akan memberikan hasil positif yaitu terjadinya pengurangan hari dan biaya perawatan bagi klien. Marchete dan Holloman(1986) dikutip oleh Jackson (1994) menyatakan bahwa pendekatan tim pada masa rehabilitasi akan meningkatkan kemampuan klien dalam menentukan dan mengatur kebutuhannya sehari-hari, melalui tim ini juga akan mempermudah untuk memperoleh informasi dari pelayanan kesehatan di masyarakat.
e.    Dokumentasi
Perencanaan pemulangan dalam pelaksanaannya perlu adanya standar dalam dokumentasi (Mc.Kenna, 2000). Perencanaan pemulangan dimulai dari pencatatan saat pengumpulan data, sampai klien masuk karena perawatan (Fisbach,1994). Dokumentasi keperawatan merupakan catatan klien pada proses keperawatan dan pencatatan ini merupakan tanggung jawab dan tanggung gugat dari pelaksana perawatan. Dokumentasi yang akurat pada proses perencanaan pemulangan sangat penting dalam proses perawatan yang aman dan dapat dipertanggungjawabkan ( Nordstrom dan Garduff, 1996). Hal ini juga untuk menjamin perawatan klien secara berkelanjutan dan terorganisir.
2.6  Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Selanjutnya Notoatmodjo menambahkan bahwa apabila penerimaan perilaku baru melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.



Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a.    Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall). Sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
b.    Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c.    Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
d.   Analisis (analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur suatu organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
e.    Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formula baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang ada.
f.     Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar (Suryani, 2006) yaitu:
1.    Faktor manusia: Faktor ini bisa menyangkut pendidik maupun peserta didik. Hal yang berperan disini adalah :
a.    Kematangan
Kematangan di sini termasuk kematangan fisik, psikis, dan sosial.
b.    Pengetahuan yang diperoleh sebelumnya
Sejauh mana pengetahuan yang diperoleh baik oleh pendidik maupun peserta didik sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar. Tentu akan lebih berhasil bila pendidik maupun peserta didik telah banyak memperoleh pengetahuan yang sedang dipelajari.
c.    Motivasi
Bila pendidik dan peserta didik sama-sama memiliki motivasi yang tinggi terhadap materi yang sedang dipelajari tentu hasilnya lebih baik daripada sebaliknya.
2.    Faktor beban tugas dan materi pendidikan kesehatan, sebagai berikut:
a.    Bentuk beban tugas
Beban tugas untuk mengubah perilaku yang memerlukan ketrampilan otot mengendarai sepeda tentu akan berbeda dengan hanya perilaku berupa yang menggunakan kata-kata seperti bernyanyi, membaca puisi atau membaca.
b.    Banyaknya materi beban tugas
Bila beban tugas banyak dan kompleks tentu akan lebih berat daripada yang materi pembelajaran itu sedikit dan sederhana.
c.    Jelas
Materi yang jelas maka proses belajar mengajar akan lebih baik.
d.   Lingkungan
Lingkungan masyarakat menentang beban tugas pendidikan, tentu akan sulit untuk berhasil baik.
3.    Cara pelaksanaan, sebagai berikut:
a.    Fasilitas dan sumber
Bila fasilitas untuk belajar memadai sumber materinya cukup tentu akan lebih berhasil.
b.    Rutinitasnya
Proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara rutin akan jauh lebih berhasil daripada yang bersifat insidental.
c.    Minat dan motivasi
Cara pembelajaran yang dilaksanakan demikian rupa sehingga membangkitkan minat dan motivasi peserta didik tentu akan lebih berhasil.
d.   Persiapan mental
Kesiapan mental untuk mengikuti pendidikan kesehatan sangat diperlukan. Bila peserta didik atau pendidiknya lagi ada masalah yang mengganggu ketentraman jawanya, tentu proses belajar kurang sukses.
e.    Feed back atau umpan balik
Feed back atau umpan balik cukup penting untuk dilaksanakan. Pertama mengenai feed back ini masalahnya bila ujian dibagikan kepada peserta didik, maka peserta didik akan mengetahui kesalahannya dan akan memperbaiki di kemudian hari.




2.7  Keuntungan Discharge Planning
Keuntungan bagi pasien adalah:
a.    Dapat memenuhi kebutuhan pasien
b.    Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses perawatan sebagai bagian yang aktif dan bukan objek yang tidak berdaya.
c.    Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya
d.   Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan memperoleh support sebelum timbulnya masalah.
e.    Dapat memilih prosedur perawatannya
f.     Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa yang dapat dihubunginya.
Keuntungan bagi perawat :
a.    Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di gunakan
b.    Menerima informasi kunci setiap waktu
c.    Memahami perannya dalam system
d.   Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru
e.    Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang berbeda dan cara yang berbeda.
f.     Bekerja dalam suatu system dengan efektif.
2.8  Justifikasi Metode Discharge Planning
Di Indonesia semua pelayanan keperawatan di Rumah Sakit, telah merancang berbagai bentuk format Discharge Planning, namun discharge planning kebanyakan dipakai hanya dalam bentuk pendokumentasian resume pasien pulang, berupa informasi yang harus di sampaikan pada pasien yang akan pulang seperti intervensi medis dan non medis yang sudah diberikan, jadwal kontrol, gizi yang harus dipenuhi setelah dirumah. Cara ini merupakan pemberian informasi yang sasarannya ke pasien dan keluarga hanya untuk sekedar tahu dan mengingatkan, namun tidak ada yang bisa menjamin apakah pasien dan keluarga mengetahui faktor resiko apa yang dapat membuat penyakitnya kambuh, penanganan apa yang dilakukan bisa terjadi kegawatdaruratan terhadap kondisi penyakitnya,  untuk itu pelaksanaan discharge planning di rumah sakit apalagi dengan penyakit kronis seperti stroke, diabetes mellitus, penyakit jantung dan lain-lain yang memiliki resiko tinggi untuk kambuh dan berulangnya kondisi kegawatan sangat penting dimana akan memberikan proses deep-learning pada pasien hingga terjadinya perubahan perilaku pasien dan keluarganya dalam memaknai kondisi kesehatannya.




























Contoh Discharge Planning
Contoh Discharge Planning yang diberikan pada pasien TB Paru :
Yang prinsip pelaksanaannya tetap melalui proses pengkajian, sehingga perawat dapat memulai discharge planning tergantung hasil pengkajian.
DISCHARGE PLANNING PADA KLIEN TB PARU
Tahap I
Pengetahuan
Tahap II
Tindakan
Tahap III
Pencegahan berulang
Tahap IV
Pertemuan keluarga
Tahap V
Rencana Tindak Lanjut
Objektif

Evaluasi
Objektif
Evaluasi
Objektif
Evaluasi
Objektif
Evaluasi
Objektif
Evaluasi
¨  Pengertian TB



¨  Penyebab TB




¨  Tanda & Gejala
TB


¨  Penatalak sanaan



¨  Komplikasi



¨  Cara Penularan




¨  Pencega
         han



¨  Diagnosis TB
- Darah
- Rontgen
- Sputum
- Mantoux Test
Bagaimana anda mengetahui bahwa penyakit yang anda rasakan berulang ?
Apa yang anda lakukan bila mengalami batuk lama lebih dari 3 mg atau disertai batuk darah
Berapa lama anda akan minum obat jika mengalami sakit seperti ini ?
Apa yang akan terjadi bila anda tidak menuntaskan minum obat

Bagaimana anda bisa terkena penyakit ini ?

Apa yang anda lakukan agar penyakit ini tidak menular kepada yang lain ?

Apa yang anda lakukan untuk memastikan bahwa anda terkena penyakit paru ?





¨ Napas dalam
¨ Batuk efektif
¨ Relaksasi
¨ Posisi







Apa yang anda lakukan bila anda merasakan dahak kental dan sulit keluar, dan sesak nafas  ?

¨  Nutrisi




¨  Obat



¨  Lingkungan

Makanan apa yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh

Apa yang anda lakukan bila lupa minum obat ?

Bagaimana upaya anda untuk menciptakan lingkungan yang sehat untuk penderita TB Paru ?



¨  Pengawasan Obat


¨  Support system
Siapa yang akan menjadi PMO pasien?


Apa yang akan PMO lakukan bila pasien malas minum obat Apa yang keluarga lakukan agar mendapatkan dukungan untuk pengobatan sampai tuntas  ?
1.      Menentukan sarana pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau
2.      Menentukan jadwal minum obat
Puskesmas atau rumah sakit ?





BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Discharge Planning menunjukkan beberapa proses formal yang melibatkan team atau memiliki tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang kekelompok lainnya.
Perawat adalah salah satu anggota team Discharge Planner, dan sebagai discharge planner perawat mengkaji setiap pasien dengan mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi masalah actual dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama pasien dan keluarga, memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi pasien secara optimal dan mengevaluasi kesinambungan Asuhan Keperawatan.
3.2 Saran
Merupakan usaha keras perawat demi kepentingan pasien untuk mencegah dan meningkatkan kondisi kesehatan pasien dan sebagai anggota tim kesehatan, perawat berkolaborasi dengan tim lain untuk merencanakan, melakukan tindakan, berkoordinasi dan memfasilitasi total care dan juga membantu pasien memperoleh tujuan utamanya dalam meningkatkan derajat kesehatannya.


Alur Discharge Planning


























Keadaan klien
1.      Klinis dan pemeriksaan penunjang lain
2.      Tingkat ketergantungan klien
 








Perencanaan pulang
 






PROGRAM HEALTH EDUCATION
1.      Kontrol dan obat/perawatan
2.      Nutrisi
3.      Aktivitas dan istirahat
4.      Perawatan diri
 

Penyelesaian administrasi
 


Lain-lain
 













Monitor (sebagai program service safety)
Oleh:
Keluarga dan petugas
 
 























Keterangan:
1.      Tugas perawat primer
a.       Membuat perencanaan pulang (discharge planning)
b.      Membuat leaflet
c.       Memberikan konseling
d.      Memberikan pendidikan kesehatan
e.       Menyediakan format discharge planning
f.       Mendokumentasikan discharge planning
2.      Tugas perawat associate
a.       Melaksanakan agenda discharge planning (pada saat perawatan dan diakhiri perawatan).






DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2002. Pedoman nasional penanggulangan Tuberkulosis, cetakan ke 8. Jakarta: Depkes RI.
Harper E.A. 1998. Discharge planning: An interdisciplinary method. Silverberg Press: Chicago, IL.
New Brunswick Department of Health and Wellness. 2002. Job definition of a discharge planning coordinator. Author: Fredericton, NB.


0 komentar:

Poskan Komentar