This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 10 Oktober 2012

mekanisme batuk

REFLEKS BATUK 
 
Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama; yaitu reseptor batuk, serabut saraf aferen, pusat batuk, susunan saraf  eferen dan efektor. Batuk bermula dari suatu rangsang pada reseptor batuk. Reseptor ini berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun di luar rongga toraks. Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring, trakea, bronkus dan di pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkurang pada cabang-cabang bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor didapat di laring, trakea, karina dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran telinga, lambung, hilus, sinus paranasalis, perikardial dan diafragma.

Serabut aferen terpenting ada pada cabang nervus vagus, yang mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung dan juga rangsang dari telinga melalui cabang Arnold dari n. Vagus. Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis, nervus glosofaringeus menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikus menyalurkan rangsang dari perikardium dan diafragma.

Tabel 1. Komponen refleks batuk
Reseptor
Aferen Pusat batuk Eferen Efektor
LaringTrakea
Bronkus
Telinga
Pleura
Lambung
Hidung
Sinus paranasalis
Faring
Perikardium
Diafragma
Cabang nervus vagusNervus trigeminus
Nervus glosofaringwus
Nervus frenikus
Tersebar merata di medula oblongata dekat pusat pernafasan, di bawah kontrol pusat yang lebih tinggi
Nervus vagusNervus frenikus intercostal dan lumbaris
Saraf-saraf trigeminus, fasialis, hipoglosus, dan lain-lain
Laring. Trakea dan bronkusDiafragma, otot-otot intercostal, abdominal, dan otot lumbal
Otot-otot saluran nafas atas, dan otot-otot bantu nafas
Serabut aferen membawa rangsang ini ke pusat batuk yang terletak di medula oblongata, di dekat pusat pemapasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh serabut-serabut eferen n. Vagus, n. Frenikus, n. Interkostal dan lumbar, n. Trigeminus, n. Fasialis, n. Hipoglosus dan lain-lain menuju ke efektor. Efektor ini terdiri dari otot-otot laring, trakea, brrmkus, diafragma, otot-otot interkostal dan lain-lain. Di daerah efektor inilah mekanisme batuk kemudian terjadi.

Gambar mekanisme batuk



Reflek batuk muncul karena adanya mekanisme yang berurutan dari komponen reflek batuk, adapun komponen reflek batuk adalah reseptor, saraf aferen, pusat batuk, saraf eferan dan efektor. Reseptor batuk tersebar di larings, trakea, bronkus, telinga, lambung, hidung, sinus paranasal, faring dan perikardium serta diafragma. Saraf yang berperan sebagai aferen yaitu n.vagus, trigeminus dan frenikus. Pusat batuk tersebar merata di medula dekat dengan pusat pernafasan. Saraf eferan yaitu n.vagus, frenikus, interkostal, lumbalis, trigeminus, fasial, hipoglosus, Sedangkan yang bertindak sebagai efektor adalah otot laring, trakea, bronkus, diafragma, interkostal dan abdominal.
Adanya rangsangan pada reseptor batuk (eksogen dan endogen) akan diteruskan oleh saraf aferen ke pusat batuk di medula. Dari pusat batuk, impuls akan diteruskan oleh saraf eferen ke efektor yaitu beberapa otot yang berperan dalam proses respiratorik.
Proses terjadinya batuk
1. Inspirasi
Terjadi inspirasi dalam untuk meningkatkan volume gas yang terinhalasi. Semakin dalam inspirasi semakin banyak gas yang terhirup, teregang otot-otot napas dan semakin meningkat tekanan positif intratorakal.
2. Kompresi
Terjadi penutupan glotis setelah udara terhirup pada fase inspirasi. Penutupan glotis kira-kira berlangsung selama 0.2 detik. Tujuan penutupan glotis adalah untuk mempertahankan volume paru pada saat tekanan intratorakal besar. Pada keadaan ini terjadi pemendekan otot ekspirasi dengan akibat kontraksi otot ekspirasi, sehingga akan meningkatkan tekanan intratorakal dan juga intra abdomen.
3. Ekspirasi(eksplusif)
Pada fase ini glotis dibuka, dengan terbukanya glotis dan adanya tekanan intratorakal dan intra abdomen yang tinggi maka terjadilah proses ekspirasi yang cepat dan singkat (disebut juga ekspulsif). Derasnya aliran udara yang sangat kuat dan cepat maka terjadilah pembersihan bahan-bahan yang tidak diperlukan seperti mukus dll.
4. Relaksasi
Terjadi relaksasi dari otot-otot respiratorik. Waktu relaksasi dapat terjadi singkat ataupun lama tergantung rangsangan pada reseptor batuk berikutnya.
Semoga bermanfaat
(Dikutip dari: Makmuri MS, Retno A, Landia S. Patofisiologi batuk. Continuing education ilmu kesehatan anak. Surabaya: FK UNAIR; 2009)

Elektrolit dan peranannya dalam tubuh


Beberapa hari ini di surat kabar nasional, diberitakan tentang Ramdan Aldil Saputra, bocah yang menderita atresia bilier. Proses cangkok hati dari ibunya yang dilakukan tim dokter dari RSUD dr Soetomo dibantu tim dokter dari Cina telah berhasil melakukan operasi ganti hati ini. Meskipun akhirnya Putra (nama baru Ramdan) akhirnya meninggal, tapi kita perlu mengapresiasi apa yang dilakukan pleh tim dokter. Perjuangan Putra memang tidak berjalan mulus, beberapa kali Putra mengalami berbagai masalah, mulai perdarahan otak, perdarahan usus dan terakhir kejang. Yang kita bahas kali ini adalah tentang keseimbangan elektrolit yang dikatakan oleh tim dokter sebagai penyebab munculnya kejang pada Putra.

Tubuh kita ini adalah ibarat suatu jaringan listrik yang begitu kompleks, didalamnya terdapat beberapa ‘pembangkit’ lokal seperti jantung, otak dan ginjal. Juga ada ‘rumah-rumah’ pelanggan berupa sel-sel otot. Untuk bisa mengalirkan listrik ini diperlukan ion-ion yang akan mengantarkan ‘perintah’ dari pembangkit ke rumah-rumah pelanggan. Ion-ion ini disebut sebagai elektrolit. Ada dua tipe elektrolit yang ada dalam tubuh, yaitu kation (elektrolit yang bermuatan positif) dan anion (elektrolit yang bermuatan negatif). Masing-masing tipe elektrolit ini saling bekerja sama mengantarkan impuls sesuai dengan yang diinginkan atau dibutuhkan tubuh.

Beberapa contoh kation dalam tubuh adalah Natrium (Na+), Kaalium (K+), Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+). Sedangkan anion adalah Klorida (Cl-), HCO3-, HPO4-, SO4-. Dalam keadaan normal, kadar kation dan anion ini sama besar sehingga potensial listrik cairan tubuh bersifat netral. Pada cairan ektrasel (cairan diluar sel), kation utama adalah Na+ sedangkan anion utamanya adalah Cl-.. Sedangkan di intrasel (di dalam sel) kation utamanya adalah kalium (K+).

Disamping sebagai pengantar aliran listrik, elektrolit juga mempunyai banyak manfaat, tergantung dari jenisnya. Contohnya :
  • Natrium     : fungsinya sebagai  penentu utama osmolaritas dalam darah dan pengaturan volume ekstra sel.
  • Kalium       : fungsinya mempertahankan  membran potensial elektrik dalam tubuh.
  • Klorida      : fungsinya mempertahankan tekanan osmotik, distribusi air pada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan kation dalam cairan ekstrasel.
  • Kalsium     : fungsi utama kalsium adalah sebagai penggerak dari otot-otot, deposit utamanya berada di tulang dan gigi, apabila diperlukan, kalsium ini dapat berpindah ke dalam darah.
  • Magnesium : Berperan penting dalam aktivitas elektrik jaringan, mengatur pergerakan Ca2+ ke dalam otot serta memelihara kekuatan kontraksi jantung dan kekuatan pembuluh darah tubuh.
Hiponatremia atau menurunnya kadar natrium dalam darah dapat disebabkan oleh kurangnya diet makanan yang mengandung natrium, sedang menjalankan terapi dengan obat diuretik (mengeluarkan air kencing dan elektrolit), terapi ini biasanya diberikan dokter kepada penderita hipertensi dan jantung, terutama yang disertai bengkak akibat tertimbunnya cairan. Muntah-muntah yang lama dan hebat juga dapat menurunkan kadar natrium darah, diare apabila akut memang dapat menyebabkan hipernatremia tapi apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan hiponatremia, kondisi darah yang terlalu asam (asidosis) baik karena gangguan ginjal maupun kondisi lain misalnya diabetes juga dapat menjadi penyebab hiponatremia. Akibat dari hiponatremia sendiri relatif sama dengan kondisi hipernatremia, seperti kejang, gangguan otot dan gangguan syaraf.

Kondisi Hiperkalemia atau meningkatnya kadar kalium dalam darah menyebabkan gangguan irama jantung hingga berhentinya denyut jantung, Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang harus segera diatasi karena mengancam jiwa. Beberapa hal yang menjadi penyebab meningkatnya kadar kalium adalah pemberian infus yang mengandung kalium, dehidrasi, luka bakar berat, kenjang, meningkatnya kadar leukosit darah, gagal ginjal, serangan jantung dan meningkatnya keasaman darah karena diabetes. Keadaan hiperkalemia ini biasanya diketahui dari keluhan berdebar akibat detak jantung yang tidak teratur, yang apabila dilakukan pemeriksaan rekam jantung menunjukkan gambaran yang khas.

Kondisi yang berkebalikan terjadi pada hipokalemia, penderita biasanya mengeluhkan badannya lemas dan tak bertenaga. Hal ini terjadi mengingat fungsi  kalium dalam menghantarkan aliran saraf di otot maupun tempat lain. Penyebab hipokalemia lebih bervariasi, penurunan konsumsi kalium akibat kelaparan yang lama dan pasca operasi yang tidak mendapatkan cairan mengandung kalium secara cukup adalah penyebab hipokalemia. Terapi insulin pada diabet dengan hiperglikemia, pengambilan glukosa darah ke dalam sel serta kondisi darah yang basa (alkalosis) menyebabkan kalim berpindah dari luar sel (darah) ke dalam sel-sel tubuh.Akibatnya kalium dalam darah menjadi menurun.

Senin, 08 Oktober 2012

asuhan keperawatan apendisitis


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
 Penyakit inflamasi pada sistem pencernaan sangat banyak, diantaranya appendisitis dan divertikular disease. Appendisitis adalah suatu penyakit inflamasi pada apendiks diakibanya terbuntunya lumen apendiks. Divertikular disease merupakan penyakit inflamasi pada saluran cerna terutama kolon. Keduanya merupakan penyakit inflamasi tetapi penyebabnya berbeda. Appendisitis disebabkan terbuntunya lumen apendiks. dengan fecalit, benda asing atau karena terjepitnya apendiks, sedang diverticular disebabkan karena massa feces yang terlalu keras dan membuat tekanan dalam lumen usus besar sehingga membentuk tonjolan-tonjolan divertikula dan divertikula ini yang kemudian bila sampai terjepit atau terbuntu akan mengakibatkan diverticulitis.
Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara berkembang, namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan perubahan pola makan, yaitu Negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat. Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa. Sedangkan insiden diverticulitis lebih umum terjadi pada sebagian besar Negara barat dengan diet rendah serat. Lazimnya di Amerika Serikat sekitar 10%. Dan lebih dari 50% pada pemeriksaan fisik orang dewasa pada umur lebih dari 60 tahun menderita penyakit ini.
Apendisitis dan divertikulitis termasuk penyakit yang dapat dicegah apabila kita mengetahui dan mengerti ilmu tentang penyakit ini. Seorang perawat memiliki peran tidak hanya sebagai care giver yang nantinya hanya akan bisa memberikan perawatan pada pasien yang sedang sakit saja. Tetapi, perawat harus mampu menjadi promotor, promosi kesehatan yang tepat akan menurunkan tingkat kejadian penyakit ini.  
Sehingga makalah ini di susun agar memberi pengetahuan tentang penyakit apendisitis dan diverticulitis sehingga mahasiswa calon perawat dapat lebih mudah memahami tentang pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, asuhan keperawatan, penatalaksanaan medis pada pasien dengan apendisitis dan diverticulitis. 
1.2  Rumusan Masalah
Bagaimanakah proses asuhan keperawatan pada apendisitis ?
1.3  Tujuan
1.3.2 Tujuan umum
Menjelaskan konsep dan proses asuhan keperawatan pada apendisitis.
        1.3.2 Tujuan khusus
  1. Mengidentifikasi definisi dari apendisitis
  2. Mengidentifikasi anatomi dan fisiologi apendisitis
  3. Mengidentifikasi etiologi dari apendisitis
  4. Mengidentifikasi klasifikasi dari apendisitis
  5. Mengidentifikasi patofisiologi dari apendisitis
  6. Mengidentifikasi manifestasi klinis dari apendisitis
  7. Mengidentifikasi penatalaksanaan dari apendisitis
  8. Mengidentifikasi asuhan keperawatan dari apendisitis
1.4  Manfaat 
1.4.1 Mahasiswa mengetahui konsep dasar apendisitis
1.4.2 Mahasiswa mampu melakukan proses asuhan keperawatan pada apendisitis






BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007)
2.2 Anatomi dan Fisiologi
Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis. Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat. Posisi apendiks berada pada Laterosekal yaitu di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen (Harnawatiaj,2008). Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.
Ukuran panjang apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin. Pada kasus apendisitis, apendiks dapat terletak intraperitoneal atau retroperitoneal. Apendiks disarafi oleh saraf parasimpatis (berasal dari cabang nervus vagus) dan simpatis (berasal dari nervus thorakalis X). Hal ini mengakibatkan nyeri pada apendisitis berawal dari sekitar umbilicus (Nasution,2010).
Saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid. Apendiks menghasilkan suatu imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue), yaitu Ig A. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi, tetapi jumlah Ig A yang dihasilkan oleh apendiks sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah Ig A yang dihasilkan oleh organ saluran cerna yang lain. Jadi pengangkatan apendiks tidak akan mempengaruhi sistem imun tubuh, khususnya saluran cerna (Nasution,2010).
Gambar 1.1 Apendisitis
     
2.3 Etiologi
Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetus apendisitis. Sumbatan pada lumen apendiks merupakan faktor penyebab dari apendisitis akut, di samping hiperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, timbuan tinja/feces yang keras (fekalit), tumor apendiks, cacing ascaris, benda asing dalam tubuh (biji cabai, biji jambu, dll) juga dapat menyebabkan sumbatan.
     Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyebab appendisitis adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.(Anonim,2008)
2.4 Klasifikas pendisitis
2.4.1 Apendisitis akut
        Apendisitis akut adalah radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
1. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
2. Fekalit
3. Benda asing
4. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks.
Gambar 1.2 Apendisitis akut
                       
2.4.2 Appendicitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
Gambar 1.3 Apendisitis purulenta
                    
2.4.3 Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria  mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.

Gambar 1.4 Apendisitis kronik
                            
2.4.4 Apendisitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik. Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita datang dalam serangan akut.
 2.4.5 Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut. Pengobatannya adalah apendiktomi. 
2.4.6 Tumor Apendiks (Adenokarsinoma apendiks)
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan  hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi.
2.4.7 Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan.
2.5 Patofisiologi
Pada umumnya obstruksi pada appendiks ini terjadi karena :
a.          Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b.         Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c.          Adanya benda asing seperti biji – bijian. Seperti biji Lombok, biji jeruk dll.
d.         Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
e.          Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus
f.          Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja   dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
g.         Tergantung pada bentuk appendiks
h.         Appendik yang terlalu panjang.
i.           Messo appendiks yang pendek.
j.           Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks.
k.         Kelainan katup di pangkal appendiks.
Akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feces) atau benda asing, apendiks terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi tersebut menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna,  meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. Appendiks mengalami kerusakan dan terjadi pembusukan (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi. Pembusukan usus buntu ini menghasilkan cairan bernanah, apabila tidak segera ditangani maka akibatnya usus buntu akan pecah (perforasi/robek) dan nanah tersebut yang berisi bakteri menyebar ke rongga perut. Dampaknya adalah infeksi yang semakin meluas, yaitu infeksi dinding rongga perut (Peritonitis).
2.6 Maninfestasi klinis
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. 3 anamnesa penting yakni:
1.    Anoreksia biasanya tanda pertama.
2.    Nyeri, permulaan nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian menjalar ketempat appendics yang meradang (parietal). Retrosekal/nyeri punggung/pinggang. Postekal/nyeri terbuka.
3.    Diare, Muntah, demam derajat rendah, kecuali ada perforasi.
Gejala usus buntu bervariasi tergantung stadiumnya:
1.   Penyakit Radang Usus Buntu akut (mendadak)
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, buat berjalan jadi sakit sehingga agak terbongkok, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.
2.   Penyakit Radang Usus Buntu kronik
Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut yaitu nyeri pd titik Mc Burney (titik tengah antara umbilicus dan Krista iliaka kanan).
Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak usus buntu itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik. (Anonim, 2008)
Pemeriksaan Diagnosa Penyakit
          Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan dan mendiagnosa adanya penyakit radang usus buntu (Appendicitis). Diantaranya adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiology:
Pemeriksaan fisik.
a.    Inspeksi: akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi).
b.    Palpasi: didaerah perut kanan bawah bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
c.    Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah (psoas sign)
d.   Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.
e.    Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.
f.     Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan positif dan tanda perangsangan peritoneum tidak begitu jelas, sedangkan bila apendiks terletak di rongga pelvis maka Obturator sign akan positif dan tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).
Pemeriksaan Radiologi
Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis, terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks. Pada kasus yang kronik dapat dilakukan rontgen foto abdomen, USG abdomen dan apendikogram.
2.7 Penatalaksanaan
Tidak ada penatalaksanaan appendisitis, sampai pembedahan dapat di lakukan. Cairan intra vena dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop. Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Pembedahan sering ditunda namun karena dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. Bila terjadi perforasi klien memerlukan antibiotik dan drainase.
Komplikasi yang dapat terjadi akibat apendisitis yang tak tertangani yakni:
1. Perforasi dengan pembentukan abses
2. Peritonitis generalisata
3. Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.




2.8              Pathway

Idiopatik
Kerja fisik yang keras
Konsumsi makan
Fekalit/Masa keras feses

Obstruksi lumen apendiks

Suplay aliran darah menurun, mukosa terbendung

Inflamasi appendiks, mengalami edema

Menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna

Peningkatkan tekanan intraluminal

Menghambat aliran limfe

Menimbulkan nyeri epigastrium




 



S
 

                                                                  
Nyeri

Distensi Abdomen
Menekan Gaster

Peningkatan Produksi HCL

Mual,Muntah


Volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
*        Perforasi
*        Abses
*        Peritoneum

Appendiktomy

Insisi Bedah

Resiko Tinggi Infeksi

 

















                                                                                                                                        

                                                                          
                                                                   BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA APENDISITIS

3.1 PENGKAJIAN
A. Anamnesa
1. Data demografi.
Nama, Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun, Jenis kelamin, Status perkawinan, Agama, Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat, Nomor register.
2. Keluhan utama.
Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terus-menerus. Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah, panas.
3. Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang.
4. Riwayat penyakit sekarang
B. Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing) : Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
B2 (Blood) : Sirkulasi : Klien mungkin takikardia.
B3 (Brain) : Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang. Data psikologis Klien nampak gelisah.
B4 (Bladder) : -
B5 (Bowel) : Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. Nyeri/kenyamanan nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney. Berat badan sebagai indikator untuk menentukan pemberian obat. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang terjadi diare.
B6 (Bone) : Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.

3.2  ANALISA DATA
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1
DS:
-  Nyeri
-  Mual
-  Muntah
DO:
-  Penurunan berat badan
-  Anorexia
-  Infeksi epigastrium
Fekalit/masa keras feses
Obstruksi lumen apendiks
Suplai aliran darah menurun, Mukosa terbendung
Inflamasi apendik, mengalami edema
Perforasi, abses, peritonium
Appendiktomy
Insisi Bedah

Resiko tinggi terhadap infeksi
2
DS:  - Haus
DO:
-  Usia lanjut
-  Kelebihan berat badan
-  Defisit pengetahuan
-  Immobilitas fisik
-  Pengobatan (diuretik)
Fekalit/masa keras feses
Obstruksi lumen apendiks
Suplai aliran darah menurun, Mukosa terbendung
 

Inflamasi apendik, mengalami edema
Distensi abdomen
Menekan gaster
Peningkatan produksi HCL
Mual, muntah

Volume cairan kurang dari kebutuhan
3
DS:
-  Kram abdomen
-  Nyeri abdomen dengan atau tanpa penyakit
-  Merasakan Ketidakmampuan untuk mengingesti makanan
-  Melaporkan perubahan sensasi rasa
-  Melaporkan kurangnya makanan
-  Merasa kenyang segera setelah mengingesti makanan
-  Indigesti
DO:
-  Tidak tertarik untuk makan
-  Kerapuhan kapiler
-  Diare dan atau steatore
-  Adanya bukti kekurangan makanan
-  Kehilangan rambut yang berlebihan
-  Bising usus hiperaktif
-  Kurang informasi
-  Kurangnya minat pada makanan
-  Konjungtiva dan membran mukosa pucat
-  Tonus otot buruk
-  Menolak untuk makan
-  Luka, rongga mulut inflamasi
Fekalit/masa keras feses
Obstruksi lumen apendiks
Suplai aliran darah menurun, Mukosa terbendung
Inflamasi apendik, mengalami edema
Distensi abdomen
Menekan gaster
Peningkatan produksi HCL
Mual, muntah


Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
4
Ds:
-  Keletihan
-  Takut kembali terluka
Do:
-  Atrofi kelompok otot yang terlibat
-  Anoreksia
-  Perubahan kemampuan untuk meneruskan aktivitas sebelumnya
-  Perubahan pola tidur
-  Penurunan interaksi dengan orang lain
-  Perubahan berat badan
Fekalit/masa keras feses
Obstruksi lumen apendiks
Suplai aliran darah menurun, Mukosa terbendung
Inflamasi apendik, mengalami edema
Aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna
Penurunan tekanan intraluminal
Menghambat aliran limfe
Nyeri epigastrium
Nyeri
 Diagnosa Keperawatan
Dx 1:   Resiko tinggi terhadap infeksi behubungan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak adekuatnya pertahanan utama.
Dx 2:   Volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.
Dx 3:   Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah.
Dx 4:   Nyeri berhubungan dengan adanya insisi bedah.

3.3 PLANNING

No
Diagnosa
Planning
Intervensi
Rasional
1.
Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan perforasi pada Apendiks dan tidak adekuatnya pertahanan utama.
Tujuan:
Kriteria Hasil : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi atau inflamasi.
a.   Awasi tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen.
b.   Lakukan pen-cucian tangan yang baik dan perawatn luka aseptic. Berika perawatan paripurna.
c.    Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka, adanya eritema.
d.   Berikan informasi yang tepat dan jujur pada pasien
e.    Ambil contoh drainage bila diindikasikan.
f.    Berikan antibiotic sesuai indikasi/
· Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis.
· Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
· Memberikan deteksi dini terjainya proses infeksi, dan atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya.
· Pengetahuan tenteng kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan anxietas.
· Kultur pewarnaan gram dan sensitifias berguna untuk mengidentifikasi organism penyebab dan pilihan terapi.
· Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organism (pada innfeksi yang telah ada sebelumnya) utuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya pada rongga abdomen.
Mandiri
·   Awasi tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatkan nyeri abdomen.
·   Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic. Berikan perawatan paripurna.
·   Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka/drein (bisa dimasukkan), adanya eritema.
·   Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/orang terdekat.
Kolaborasi
·  Ambil contoh drainase bila diindikasikan.
·  Berikan antibiotic sesuai indikasi. 
·  Bantu irigasi dan drainase bila diindikasikan

·       Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis.
·       Menurunkan resiko penyebaran bakteri.
·       Memberikan deteksi dini terjadi proses  infeksi, dan/atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada sebelumnya.
·       Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungn emosi, membantu menurunkan ansietas.
·       Kultur pewarnaan Gram dan sensitivities berguna untuk mengidentifikasikan organism penyebab dan pilihan terapi.
·       Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organism (pada infeksi yang telah ada pertumbuhannya pada rongga abdomen.
·       Dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses terlokalisir.

2.
Volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Kriteria Hasil : Mempertahankan keseimbangan cairan dibuktikan oleh kelembaban membrane mukosa, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, dan secara individual haluaran urine adekuat.

Mandiri
·      Awasi tekanan darah nadi.
·      Lihat membrane mukosa, kaji tugor kulit dan pengisian kapiler.
·      Awasi masukan dan haluaran, catat warna urine/konsentrasi, berat jenis.
·      Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus, gerakan usus.
·      Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir.
Kolaborasi
·      Pertahankan penghisapan gaster/usus.
·      Berikan cairan IV dan elektrolit
·     Tanda yang membantu mengidentifikasikan fluktuasi volume intravaskuler.
·     Indicator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
·     Penurunan haluaran urin pekat dengan peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan.
·     Indicator kembalinya peristaltic, kesiapan untuk pemasukan per oral.
·     Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah
·     Selang NG biasanya dimasukkan pada praoperasi dan dipertahankan pada fase segera pascaoperasi  untuk dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah mentah.
·     Peritoneum bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia.
·     Dehidrasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit

3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terjadinya mual dan muntah.


Tujuan :
Kriteria Hasil : BB normal,
Mandiri
Buat jadwal masukan tiap jam. anjurkan mengukur cairan/makanan dan minum sedikit demi sedikit atau makan dengan perlahan.
Timbang berat badan tiap hari. buat jadwal teratur setaelah pulang.
Tekankan pentingnya menyadari kenyang dan menghentikan masukan.
Beritahu pasien untuk duduk saat makan/minum.
Tentukan makanan yang membentuk gas.
Diskusikan yang disukai pasien dan masukan dalam diet murni.
Kolaborasi
Berikan diet cair, lebih lembut, tinggi protein dan serat, dan rendah lemak, dengan tambahan cairan sesuai kebutuhan.
Rujuk ke ahli gizi
Berikan tambahan vitamin seperti B12 injeksi, folat, dan kalsium sesuai indikasi.
Setelah tindakan pembagian, kapasitas gaster menurun kurang lebih 50 ml, sehingga perlu makan sedikit/sering.
Pengawasan kehilangandan alat pengkajian kebutuhan nutrisi/keefektifan terapi.
Makan berlebihan dapat menyebabkan mual/muntah atau kerusakan operasi pembagian.
Menurunkan kemungkinan aspirasi.
Dapat mempengaruhi nafsu makan/pencernaan dan membatasi masukan nutrisi.
Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi/kontrol.
Memberikan nutrisi tanpa menambah kalori. catatan: diet cair biasanya dipertahankan selama 8 minggu setelah prosedur pembagian.
Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi.
Tambahan dapat diperlukan untuk mencegah anemia karena gangguan absorpsi. Peningkatan motilitas usus setelah prosedur bypass merendahkan kadar kalsium dan meningkatkan absorpsi oksalat, dimana dapat menimbulkan pembentukan batu urine.
4.
Nyeri berhubungan dengan adanya insisi bedah
Tujuan :
Kriteria hasil : Pasien tampak rileks mampu tidur/ istirahat dengan tepat.

Mandiri
·      Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, berat (skala 0-10). Sakit dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.
·      Pertahankan istirahat dengan posisi semi-fowler.
·      Dorong ambulasi dini.
·      Berikan aktivitas hiburan.
Kolaborasi
·      Pertahankan puasa/penghisapan NG pada awal
·      Berikan analgesic sesuai indikasi
·      Berikan kantong es pada abdomen.

·      Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan.
·      Perubahan pada kerakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medic dan intervensi.
·      Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
·      Meningkatkan normalitas fungsi organ, contoh merangsang peristaltic dan kelancaran flatus, menurunkan ketidak nyamanan abdomen.
·      Focus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
·      Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltic usus dini dan iritasi gaster/muntah.
·      Menghilangkan nyeri mempermudah kerja sama intervensi terapi lain contoh ambulasi, batuk.
·      Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa ujung saraf.


3.4 IMPLEMENTASI
No
Dx
Hari/tgl
Implementasi
Paraf
1.
1

Senin, 23 April 2012
·  Jam 08.00-08.05
·  Jam 08.05-08.15
·  Jam 08.15-08.20
Menghindari infeksi
  • Melakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
  • Mengobservasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi
  • Memberikan antibiotic sesuai indikasi

2.
2

Selasa, 24 April 2012
·  Jam 08.00-08.05
·  Jam 08.05-08.10
·  Jam 08.10-08.15
·  Jam 08.15-08.25
·  Jam 08.25-08.30
·  Jam 08.30-08.35
Mempertahankan keseimbangan cairan
  • Mempertahankan catatan intake dan output yang akurat.
  • Memonitor vital sign dan status hidrasi.
  • Memonitor status nutrisi
  • Mengawasi nilai laboratorium, seperti Hb/Ht, Na+ albumin dan waktu pembekuan.
  • Berkolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi.
  • Mengatur kemungkinan transfusi darah.

3.
3
Rabu, 25 April 2012
·   Jam 08.00-08.05
·   Jam 08.05-08.10
·   Jam 08.10-08.20
·   Jam 08.20-08.25
·   Jam 08.25-08.35
Memenuhi kebutuhan nutrisi
  • Menentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
  • Memantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
  • Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
  • Meminimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah.
  • Mempertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan.

4.
4
Kamis, 26 April 2012
·  Jam 08.00-08.15
·  Jam 08.15-08.20
·  Jam 08.20-08.35
·  Jam 08.35-08.40
·  Jam 08.40-08.45
·  Jam 08.45-08.50
Mengurangi nyeri
  • Melakukan pengkajian nyeri, secara komprehensif meliputi lokasi, keparahan.
  • Mengobservasi ketidaknyamanan non verbal
  • Menggunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak terburu-buru.
  • Mengendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan.
  • Menganjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan teknik relaksai saat nyeri.
  • Berkolaborasi medis dalam pemberian analgesic.


3.5 EVALUASI

No
Evaluasi
1
Jam:
S: Pasien mengatakan tidak ada tanda infeksi
O: Menunjukan tidak ada tanda infeksi: Luka sembuh tanpa tanda infeksi, Cairan yang keluar dari luka tidak purulen
A: Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan
2
Jam:
S: Pasien mengatakan tidak merasa haus lagi
O: Cairan tubuh seimbang: Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal, Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal, Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab.
A: Masalah teratasi
P: Intervensi di hentikan
3
Jam:
S: Pasien mengatakan tidak merasa lapar
O: Nutrisi terpenuhi: Mempertahankan berat badan, Toleransi terhadap diet yang dianjurkan, Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi dan Turgor kulit baik
A: Masalah teratasi
P: Intervensi di hentikan
4
Jam:
S: Pasien mengatakan tidak nyeri lagi
O: Melaporkan berkurangnya nyeri: Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol dan Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan
















BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)
4.2  Saran
Mahasiswa keperawatan harus benar-benar memahami konsep dasar penyakit apendisitis dan diverkulitis ini sebelum benar-benar mempraktekkannya di rumah sakit.












DAFTAR PUSTAKA
 
Burner and suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8.volume 2. Jakarta : EGC.
Engram, Barbara, 1994. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah  Vol 2. Jakarta : EGC.
Perry & Potter, 2006, Fundamental Keperawatan volume 2.Jakarta : EGC.
Marylin E. Doenges.2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta: EGC
Mansjoer. A.dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius
Johnson, Marion,dkk.2000. Nursing Outcome Classification (NOC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc.
Mc. Closkey, Joanne. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). St. Louis, Missouri: Mosby Yearbook,Inc.